Sifat Asam-Basa Senyawa Hidroksida Unsur Periode Ketiga

Sifat asam-basa unsur periode ketiga dapat dipengaruhi oleh konfigurasi elektron dan struktur molekul dari unsur-unsur tersebut.  Sifat asam-basa dapat dijelaskan menggunakan teori Brønsted-Lowry dan teori Lewis. Sifat asam-basa tersebut memberikan gambaran umum, dan ada definisi yang lebih luas dalam teori asam-basa, terutama dalam konteks teori Lewis. Senyawa hidroksida unsur-unsur periode ketiga mempunyai sifat berkisar dari sifan basa kuat sampai dengan sifat asam paling kuat. Sifat ini ada kaitan dengan energi ioniasi. Dalam satu periode, dari Na ke Cl energi ionisasi bertambah, akibatnya sifat basa berkurang dan sifat asam bertambah.
Sifat basa makin ke kanan makin berkurang dan sifat asam makin ke kanan makin bertambah.

Struktur senyawa hidroksida unsur-unsur periode ketiga dapat digambarkan sebagai berikut:
M – O – H
di mana: M = unsur yang berada pada periode ketiga

Oleh karena M adalah unsur yang berada pada periode ketiga maka bilangan oksidasi tertinggi unsur periode ketiga sama dengan nomor golongannya, sedangkan OH mempunyai bilangan oksidasi = -1 sehingga hidroksida unsur periode ketiga dapat dinyatakan dengan rumus:
M(OH)x
di mana: x = nomor golongan unsur pada periode ketiga
Jadi, hidroksida unsur periode ketiga terdiri atas NaOH; Mg(OH)2; Al(OH)3 ; Si(OH)4; P(OH)5 ; S(OH)6; dan Cl(OH)7.

Sifat asam atau basa hidroksida unsur periode ketiga bergantung pada letak pernu- tusan ikatan M-O-H, yaitu

  1. Jika energi ionisasi unsur periode ketiga rendah maka ikatan M-OH bersifat ionik dan pemutusan terjadi pada ikatan M-O.
    Dengan demikian, hidroksida ber- sifat basa dan dalam air melepaskan ion OH.
    MOH → М+ + ОН
  2. Jika energi ionisasi unsur periode ketiga relatif besar maka ikatan M-OH bersifat kovalen dan pemutusan terjadi pada ikatan O-H (karena O-H bersifat polar).
    Dengan demikian, hidroksida bersifat asam kerena dalam air mengalami hidrolisis sehingga melepaskan ion H+.
    МОН → MO + H+

Sifat asam atau basa hidroksida unsur periode ketiga dapat disimpulkan dalam tabel berikut.

Jenis IkatanJenis IkatanSifat Asam Basa
NaOH

Mg(OH)2

Al(OH)3

Si(OH)4; (H2SiO3)

P(OH)5; (H3PO4)

S(OH)6; (H2SO4)

Cl(OH)7; (HClO4)

ionik

ionik

ionik kovalen

kovalen

kovalen

kovalen

kovalen

basa kuat

basa lemah

amfoter

asam sangat lemah

asam lemah

asam kuat

asam sangat kuat

  1. Natrium hidroksida (NaOH)
    Natrium hidroksida (NaOH) sangat mudah larut dalam air dan larutan NaOH bersifat basa kuat.
  2. Magnesium hidroksida (Mg(OH)2)
    Magnesium hidroksida (Mg(OH)2) sukar larut dalam air dan larutan Mg(OH)2 bersifat basa lemah.
  3. Aluminium hidroksida (Al(OH)3)
    Aluminium hidroksida (Al(OH)3) sangat sukar larut dalam air dan larutan (Al (OH)3) bersifat amfoter, artinya di samping dapat bereaksi dengan asam kuat (bersifat sebagai basa) dapat juga bereaksi dengan basa kuat (bersifat sebagai asam).
    Al(OH)3(s) +3 H+(aq) → Al3+(aq) + 3 H2O(l)
    Al(OH)3(s) +OH(aq) → Al(OH)4(aq)
  4. Silikon hidroksida (Si(OH)4)
    Silikon hidroksida (Si(OH)4) tidak stabil dan melepaskan 1 molekul air membentuk asam silikat (H2SiO3).
    Si(OH)4 → SiO(OH)2 + H₂O atau H2SiO3 + H₂O
    Asam silikat merupakan asam sangat lemah dan tidak stabil, mudah terurai menjadi SiO2 dan H2O. Namun, garam-garam silikat banyak dikenal, seperti Na2SiO3 ; CaSiO3.
  5. Hidroksida fosfor (P(OH)5)
    Hidroksida fosfor (P(OH)5) tidak stabil dan melepaskan 1 molekul air membentuk asam fosfat (H3PO4).
    P(OH)5 → PO(OH)3 + H₂O atau H3PO4 + H2O
    Asam fosfat merupakan asam lemah. Selain asam fosfat, fosforus juga membentuk asam oksi yang lain, yaitu asam fosfit (H3PO3) dan asam hipofosfit (H3PO2). Kedua asam oksi yang terakhir ini juga merupakan asam lemah. Kekuatan ketiga macam asam oksi-fosfor ini hampir sama yang dapat terlihat dari harga Ka sebagai berikut:
    H3PO4(aq) → H2PO4(aq) + H+ aq)      Ka1 = 7,5 × 103
    H3PO3(aq) → H₂PO3(aq) + H+(aq)     K a1 = 1,6 × 102
    H3PO2(g) → H₂PO2(aq) + H+(aq)       K a1 = 1,0 × 10-2
  6. Hidroksida belerang (S(OH)6)
    Hidroksida belerang (S(OH)6) tidak stabil dan melepaskan 2 molekul air membentuk asam sulfat (H2SO4).
    S(OH)6 → SO₂(OH)2 + 2 H2O atau H2SO4 + 2 H2O
    Asam sulfat (H₂SO₄) tergolong asam kuat. Asam sulfat ini dalam air terionisasi bertahap, yaitu tahap pertama asam sulfat mengion sempurna, sedangkan tahap kedua terion sebagian.
    H2SO4(aq) → HSO4(aq) + H+(aq)
    HSO4‑(aq) → SO42-(aq) + H+(aq)
    Selain asam sulfat, belerang juga membentuk asam oksi yang lain, yaitu asam sulfit (H2SO3). Asam sulfit tergolong asam lemah dan tidak stabil, mudah terurai membentuk SO2 dan H2O.
    H2SO3(aq) → SO2(g) + H2O(l)
  7. Hidroksida klorin (Cl(OH)7)
    Hidroksida klorin (CI(OH)7) tidak stabil dan melepaskan 3 molekul air membentuk asam perklorat (HCIO4).CI(OH)7 → CIO3(OH) + 3 H2O atau HCIO4 + 3 H2O
    Asam perklorat (HCIO4) merupakan asam sangat kuat (paling kuat di antara semua asam yang dikenal). Selain asam Perklorat, klorin juga membentuk beberapa asam oksi yang lain, yaitu asam klorat (HCIO3); asam klorit (HCIO2); dan asam hipoklorit (HCIO). Kekuatan keempat macam asam oksi-klorin berkurang dari asam perklorat (HCIO4) ke asam hipoklorit (HCIO).

Mungkin Anda juga menyukai