Strategi Mengoptimalkan Pelaksanaan P5

Strategi merujuk pada rencana tindakan terencana dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan tertentu. Yang melibatkan pemilihan sumber daya, langkah-langkah taktis, dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi melibatkan penentuan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara yang paling efektif dan efisien.

Dengan tujuan untuk membantu peserta didik terlibat secara optimal sepanjang kegiatan projek profil berlangsung, maka di sini diberikan beberapa cara agar pelaksanaannya dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

Strategi: Mendorong keterlibatan belajar peserta didik

Kunci dari implementasi kegiatan projek profil adalah keterlibatan belajar peserta didik (student engagement) dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik sebagai fasilitator pembelajaran perlu terus berkreasi untuk meningkatkan partisipasi belajar seluruh peserta didik dalam serangkaian kegiatan yang sedang dilaksanakan. Beberapa hal dapat diupayakan pendidik untuk mendorong partisipasi peserta didik yang mengarah pada peningkatan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran.

Contoh

  • Membangun ikatan (bonding) dengan peserta didik. Sebagai fasilitator pembelajaran, pendidik dapat berposisi sebagai teman belajar peserta didik yang memiliki kedekatan secara personal. Kedekatan hubungan tersebut bertujuan agar pendidik dapat memahami peserta didik secara lebih mendalam. Semakin pendidik memahami kemampuan peserta didiknya, semakin ia dapat menemukan cara yang efektif untuk meningkatkan partisipasi belajar mereka. Di sisi lain, semakin peserta didik merasa dipahami, semakin tinggi keterikatan mereka terhadap proses belajar yang sedang dilakukannya.
  • Memberikan tantangan secara bertahap. Pendidik diharapkan dapat memecah tahapan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dan menyesuaikan tingkat kesulitannya. Hal ini ditujukan agar peserta didik dapat merasakan keberhasilan keberhasilan kecil sehingga mereka merasa mampu dan percaya diri. Selama prosesnya pendidik dapat mendampingi aktivitas yang dilakukan peserta didik secara bertahap dengan memandu dan menyajikan sumber sumber belajar yang diperlukan.
  • Memelihara rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu (curiosity) adalah bahan bakar utama untuk menjaga konsistensi keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebelum mengharapkannya muncul dalam diri peserta didik, pendidik perlu memunculkannya terlebih dahulu di dalam dirinya. Selanjutnya pendidik dapat secara konsisten mengajak peserta didik menyadari tujuan atau arti penting dari sesuatu hal agar mereka memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari. Untuk mengasah kemampuan bertanya, peserta didik bisa diajak untuk membuat daftar pertanyaan mengenai hal-hal yang ingin mereka ketahui dari setiap tahapan projek profil yang dilakukan. Kumpulan pertanyaan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan
eksplorasi kegiatan untuk menghidupkan projek profil, baik dalam pelaksanaan proses maupun dalam pengembangan produk yang dihasilkan.
  • Melakukan refleksi secara berkala. Kegiatan refleksi adalah aktivitas penting yang diperlukan untuk menggenapkan proses belajar yang sedang dilakukan peserta didik. Pendidik dapat mengupayakan kegiatan refleksi secara berkala, baik melalui dialog verbal atau tertulis, juga baik dilakukan secara individu atau berkelompok. Dalam kegiatan refleksi, pendidik diharapkan dapat memberikan umpan balik yang cukup agar peserta didik dapat terus meningkatkan upaya belajarnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggali pemahaman peserta didik akan situasi yang sedang dihadapinya, lalu memberikan saran yang konstruktif dari situasinya tersebut. Misalnya saat pendidik melihat bahwa kemampuan manajemen waktu dan pekerjaan peserta didik perlu ditingkatkan, hal tersebut dapat menjadi topik untuk kegiatan refleksi. Namun, pendidik perlu menggali terlebih dahulu pemahaman peserta didik mengenai manajemen waktu dan pekerjaan sebelum memberikan umpan balik mengenai hal-hal apa saja yang bisa mereka tingkatkan. (Catatan: Hindari membangun kesan jika kegiatan refleksi adalah cara pendidik untuk mengevaluasi dan mencari-cari kesalahan peserta didik).
  • Pada Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK): Pendampingan, pengulangan dan pembiasaan. Berkembangnya potensi dan tumbuhnya karakter serta kebiasaan baik, khususnya pada peserta didik berkebutuhan khusus, tidak lepas dari pendampingan, pengulangan, dan pembiasaan yang dilakukan, baik di sekolah maupun di rumah. Pada dasarnya, prinsip dalam melakukan pendampingan meliputi: (1) pengenalan keunikan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus, (2) fokus dan percaya pada potensi yang masih dapat dikembangkan, (3) memperlakukan peserta didik setara dengan orang lain pada umumnya, dan (4) pelibatan orang tua atau keluarga dalam praktik pendampingan, pengulangan, dan pembiasaan.
  • Dalam pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila, peserta didik, pendidik, dan satuan pendidikan harus sama-sama memiliki ruang dan kesempatan yang cukup untuk mengembangkan diri sesuai dengan semangat merdeka belajar. Hal ini menjadi prasyarat bagi upaya pengembangan projek profil yang berkelanjutan.

    Strategi: Menyediakan ruang dan kesempatan untuk berkembang

    Satuan pendidikan perlu melihat bahwa setiap upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan projek profil adalah proses belajar yang memerlukan waktu panjang untuk mencapai keberhasilan. Peserta didik, pendidik, dan bahkan satuan pendidikan dapat berkembang secara bertahap sesuai dengan tahapan belajarnya. Untuk mengoptimalkan hal tersebut, setiap pihak harus dapat saling mengomunikasikan pendapatnya dan memberikan umpan balik yang berkesinambungan dalam sebuah dialog yang reflektif. Dalam konteks tersebut, pemberian ruang dan kesempatan harus dilengkapi dengan dukungan agar setiap individu dapat memberikan suara dan menentukan pilihan bagi setiap tantangan yang dihadapinya.

    Contoh

    • Melakukan dialog reflektif. Membiasakan forum refleksi untuk saling memberikan pendapat terkait keberlangsungan kegiatan projek profil.
    • Memberikan suara dan menentukan pilihan. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat ikut terlibat dalam mengembangkan aktivitas projek profil serta menentukan target dan produk yang ingin dicapai. Pendidik dan peserta didik perlu bersama[1]sama menentukan strategi dan dukungan yang dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan dan pemahamannya, sehingga setiap individu dapat terus melatih, mengaplikasikan, dan merefleksikan pembelajaran yang mereka dapatkan selama pelaksanaan projek profil.

    Strategi: Membudayakan nilai kerja yang positif

    Budaya yang positif di satuan pendidikan mewujud dalam sikap pembelajar pada aktivitas sehari-hari. Ketika misalnya terdapat pandangan bahwa melakukan kesalahan yang tidak disengaja bukanlah sesuatu hal yang buruk, maka peserta didik tentu saja tidak akan segan untuk bisa selalu mencoba. Sebagai bentuk dari sebuah nilai, kemampuan yang diharapkan muncul dalam diri setiap pembelajar tidak dihadirkan sebagai sebuah instruksi, namun sebagai sebuah pembiasaan yang rutin dilakukan dalam keseharian. Membudayakan nilai bukanlah sebuah upaya yang bisa dilakukan secara instan, sehingga diperlukan konsistensi dan komitmen untuk dapat membangunnya secara berkelanjutan. Contoh nilai kerja yang positif

    • Pentingnya mengasah kemampuan untuk dapat mengatur waktu dan pekerjaan, mengolah dan menindaklanjuti umpan balik, membangun inisiatif, memilih tantangan, dan mengevaluasi diri secara berkesinambungan.
    • Memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja yang telah dicapai dengan proses yang optimal.
    • Memahami jika tidak ada satu cara kerja atau jawaban benar dalam mengerjakan projek profil dan meyakini jika proses belajar tidak kalah penting dari produk atau hasil akhir yang mungkin dicapai.
    • Berani mencoba dan dapat belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan.

    Strategi: Memastikan efektivitas kegiatan secara berkesinambungan

    Optimalisasi pelaksanaan projek profil secara teknis berkaitan dengan kemampuan pendidik dan satuan pendidikan untuk dapat mengelola berjalannya rangkaian kegiatan projek profil secara efektif dan efisien. Setidaknya kita dapat melihat efektivitas tersebut dalam tiga hal: alur kegiatan, alokasi waktu, dan kolaborasi tim pendidik.

    Contoh

    Poin evaluasiTindakan
    Alur kegiatan dan alokasi waktuMemeriksa secara berkala apakah pengembangan aktivitas yang terjadi dalam rangkaian kegiatan masih berada dalam koridor alur dan alokasi waktu yang tersedia. Diharapkan pemeriksaan secara berkala ini dapat menghindarkan terjadinya eksplorasi kegiatan yang terlalu jauh dari ruang lingkup dan kedalaman projek profil yang direncanakan sehingga berdampak pada kekurangan alokasi waktu kegiatan pada paruh terakhir pelaksanaan projek profil
    Kolaborasi tim pendidikMelakukan evaluasi secara berkala untuk melihat sejauh mana pendidik dapat saling berbagi peran dan melakukan kerja sama sesuai perannya satu sama lain. Semakin kuat kolaborasi tim pendidik, semakin tinggi tingkat keberhasilan projek profil dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya

    Strategi: Evaluasi berkala dan adaptasi projek profil sesuai konteks

    Dalam pelaksanaan projek profil, bisa jadi terdapat hambatan atau kendala yang tidak diduga sebelumnya. Ketika berhadapan dengan hal-hal tersebut, tim fasilitator projek profil dapat melakukan evaluasi dan adaptasi projek profil dengan tetap berpedoman pada tujuan pembelajaran yaitu penguatan profil pelajar Pancasila.

    Contoh kendala yang diidentifikasiContoh tindakan penanggulangan
    Ketika projek profil sudah berjalan, ternyata masih ada perbedaan pemahaman pendidik tentang beberapa komponen projek profil, sehingga terjadi kebingungan dalam pelaksanaan.Penyamaan persepsi tim terhadap komponen projek profil terkait
    Pendidik tidak dapat memenuhi alokasi waktu yang telah disepakati karena faktor eksternal/ tak terduga (sakit, acara dinas, mutasi, dan lain-lain).Adaptasi peran anggota tim fasilitator projek profil, perombakan anggota tim
    Perubahan konteks di satuan pendidikan dan sekitarnya, sehingga rancangan modul projek profil tidak lagi sesuai konteks atau tidak sesuai kebutuhan pembelajaran peserta didik.Adaptasi modul projek profil dengan berpedoman pada tujuan projek profil, yaitu penguatan profil pelajar Pancasila. Pelibatan berbagai pihak dalam diskusi adaptasi projek profil (termasuk di antaranya peserta didik, orang tua, narasumber, mitra, dan lain sebagainya)

    Mungkin Anda juga menyukai