Zat Aditif Pada Makanan

Zat aditif, atau bahan tambahan pangan (BTP), adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman dalam jumlah kecil untuk meningkatkan kualitasnya. Zat ini dapat berupa pewarna, pengawet, pemanis, pengental, pengemulsi, dan lainnya.

Meskipun zat aditif umumnya aman dikonsumsi, namun ada beberapa yang dapat menimbulkan efek samping bagi kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memilih produk makanan yang menggunakan zat aditif yang aman dan sesuai dengan batas maksimal yang diizinkan oleh BPOM.

Sebagai konsumen, penting untuk selalu membaca label kemasan makanan sebelum membeli dan memperhatikan informasi tentang zat aditif yang terkandung di dalamnya. Pastikan Anda memilih produk makanan yang menggunakan zat aditif yang aman dan sesuai dengan batas maksimal yang diizinkan.

Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar. Kita perlu makan untuk mempertahankan hidup. Makanan yang kita makan setiap hari mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Di samping itu, masih banyak bahan lain yang ditambahkan pada makanan dengan tujuan tertentu.

Berkat kemajuan ilmu dan teknologi pangan di dunia sekarang ini, semakin banyak jenis makanan yang dibuat, dijual maupun dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan praktis dibandingkan dengan bentuk segarnya. Contohnya, buah kalengan, daging kalengan, sambal botol, dan minuman dalam botol plastik maupun dalam karton. Segala jenis makanan siap santap tersebut dapat tersedia karena perkembangan teknologi produksi dan penggunaan bahan aditif dalam makanan. Namun, penggunaan bahan aditif sintetis tidak selamanya aman bagi kesehatan manusia.

Pada umumnya, zat aditif dalam makanan dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu

  1. Zat aditif yang sengaja ditambahkan dalam makanan. Merupakan zat aditif yang secara sengaja ditambahkan pada makanan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk mengawetkan, meningkatkan gizi, menambah aroma, maupun sebagai penyedap. Zat aditif tersebut umumnya bersifat menguntungkan.
  2. Zat aditif yang tidak sengaja ditambahkan dalam makanan, yaitu zat-zat yang dalam jumlah sedikit atau banyak terdapat dalam makanan sebagai akibat dari proses pengolahan. Umumnya bersifat merugikan.

Ditinjau dari asalnya, zat aditif dalam makanan dibedakan pula menjadi dua jenis, yaitu

  1. Zat aditif alami
    Berasal dari alam, misalnya kunyit, daun salam, dan daun pandan.
  1. Zat aditif sintetis
    Merupakan tiruan dari bahan alam yang dibuat di laboratorium. Umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu stabil, murah, dan lebih pekat. Namun, ada juga kelemahannya, yaitu ketidak- sempurnaan proses dapat mengakibatkan zat tersebut mengandung bahan yang berbahaya bagi kesehatan.

Pada umumnya, zat aditif alam relatif lebih aman daripada zat aditif sintetis.

Penyakit kurang gizi atau malnutrisi yang disebabkan kekurangan satu atau lebih zat gizi yang dikonsumsi, masih banyak diderita sebagian rakyat Indonesia, misalnya penyakit gondok karena kekurangan iodin. Untuk mencegah penyakit gondok maupun kretinisme, maka perlu penambahan iodin pada bahan makanan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara iodisasi garam dapur. Adapun konsentrasi yang diperkenankan adalah 0,5 sampai 1,0 bagian per 10.000 bagian garam dapur atau berkisar 0,005% sampai 0,01%.

Selain itu, sampai saat ini diperkirakan 50.000 anak Indonesia menderita penyakit xerophtalmia, yaitu kerusakan kornea mata sebagai akibat kekurangan vitamin A, yang bisa menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, penting penambahan vitamin A pada berbagai produk makanan.

Jumlah kebutuhan vitamin A yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

  1. Anak-anak kurang dari 10 tahun: 1.200- 2.400 IU.
  2. Orang dewasa: 3.500-4.000 IU.

Pada umumnya, zat aditif alam relatif lebih aman dari pada zat aditif sintetis.

Pengertian Zat Aditif dalam Makanan

Zat aditif dalam makanan adalah bahan-bahan yang ditambahkan dalam makanan selama proses produksi, pengolahan, pengemasan, atau penyimpanan untuk tujuan tertentu.

Penambahan zat aditif dalam makanan adalah berdasarkan berbagai pertimbangan sebagai berikut:

  1. Agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga sehingga tidak menyimpang dari sifat alamiahnya,
  2. Untuk mempertahankan nilai gizi makanan sebab selama proses pengolahan makanan, zat gizi ada yang rusak atau hilang,
  3. Agar makanan menjadi lebih menarik,
  4. Untuk konsumsi segolongan orang tertentu yang memerlukan makanan diet.

Fungsi Zat Aditif dalam Makanan

Dari berbagai pertimbangan di atas, maka fungsi zat aditif dalam makanan adalah:

  1. Untuk mempertahankan tekstur, tetap segar, warna, dan bau serta rasanya tetap. Dalam hal ini perlu ditambahkan zat anti oksidan, yaitu zat yang dapat mencegah proses oksidasi oleh udara.Sebagai zat anti oksidan, antara lain:
    Butil Hidroksi Anisol (BHA)

    zat aditif

    zat aditif

    Butil Hidroksi Toluen (BHT)

    zat aditif

    zat aditif

    Propil Gallate

    zat aditif

    zat aditif

  2. Pengawet
    Pengawet adalah bahan aditif dalam makanan yang dapat menghambat penguraian oleh kerja bakteri atau jamur sehingga makanan tidak cepat rusak atau membusuk. Bahan aditif yang sering dipakai sebagai pengawet, antara lain asam benzoat dan garamnya serta asam propionat dan garamnya. Kedua jenis bahan ini efektif menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri.
  3. Sekuestran
    Sekuestran adalah bahan aditif dalam makanan yang dapat mengikat ion-ion logam yang ada dalam makanan dan membentuk senyawa kompleks. Dengan terikatnya ion-ion logam tersebut, dapat dihambat terjadinya proses oksidasi yang dapat menimbulkan perubahan warna dan aroma. Bahan aditif yang berfungsi sebagai sekuestran ialah asam sitrat, asam fosfat, dan garamnya, serta kalsium dinatrium EDTA atau pun dinatrium EDTA (EDTA = Ethylene Diamine Tetra Acetic acid).
  4. Penambah Gizi
    Zat ini adalah bahan aditif dalam makanan yang berupa asam amino, mineral ataupun vitamin, baik secara gabungan maupun tunggal. Fungsinya untuk memperbaiki gizi makanan. Contohnya, asam askorbat, feri fosfat, vitamin A, dan vitamin D.
  5. Penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa
    Zat ini adalah bahan aditif yang dapat memberikan, menambah, atau memper- tegas rasa dan bau atau aroma. Untuk penyedap rasa sering kali ditambahkan MSG (Monosodium Glutamat) atau vetsin. MSG sering ditambahkan pada produk daging. Untuk memperkuat aroma buah-buahan sering ditambahkan esens yang umumnya merupakan senyawaester, misalnya frambos esens dan vanili esens.
  6. Pewarna
    Pewarna adalah bahan aditif dalam makanan yang dapat memberikan warna atau dapat memperbaiki warna pada makanan. Pewarna untuk bahan makanan berbeda dengan pewarna untuk tekstil. Ada dua macam pewarna makanan, yaitu
  • Pewarna alami
    merupakan zat pewarna yang berasal dari alam, misalnya kunyit untuk pewarna kuning dan daun suji untuk pewarna hijau.
  • Pewarna sintetis
    merupakan zat pewarna yang disintesis dalam laboratorium atau industri pewarna makanan. Misalnya, yellow FCF dan yellow quinolin untuk pewarna kuning.

Zat-zat aditif yang sering ditambahkan dalam makanan tidak selamanya aman bagi manusia. Oleh karena itu, pemberiannya harus menurut aturan dan jumlah tertentu sehingga aman bagi manusia maupun hewan, terutama penggunaan zat pewarna dalam makanan maupun minuman.

Berikut ini beberapa pewarna sintetis dalam makanan dan minuman serta jumlah yang aman untuk digunakan.

NoNama Zat WarnaJenis MakananBahan Maksimum Pemakaian
1Coklat HT

minuman ringan

makanan lain

70 mg/L produk

300 mg/kg

2eritrosin merah

es krim dan sejenisnya

makanan lain

100 mg/kg

300 mg/kg

3Hijau CFC

es krim dan sejenisnya

makanan lainnya

100 mg/kg

300 mg/kg

4Kuning Quinolin

es krim dan sejenisnya

makanan lainnya

100 mg/kg

100 mg/kg

5Biru Indigotin

es krim dan sejenisnya

makanan lainnya

100 mg/kg

300 mg/kg

Dewasa ini sangat sulit untuk mendapatkan makanan siap santap yang bebas dari zat aditif, baik dalam restoran maupun warung makan di pinggir jalan. Makanan yang dijual umumnya mengandung zat aditif. Makanan serta minuman yang kita konsumsi setiap hari, terutama yang berupa kemasan, umumnya mengandung zat aditif, baik sebagai penyedap, aroma, pewarna, maupun pengawet. Bahkan di rumah pun, ibu-ibu rumah tangga menyediakan makanan bagi keluarganya tidak lepas dari pemakaian zat aditif dalam makanan.

Penggunaan zat aditif yang sering dipakai

  1. Monosodium Glutamat (MSG) sebagai bumbu masak atau penyedap masakan dengan merk dagang beraneka macam, misalnya Miwon, Sasa, Motto, Ajinomoto, dan Masako. Diperkirakan, masyarakat kita mengkonsumsi MSG 1,8 sampai 2 gram per hari. Penggunaan MSG dengan dosis 5 gram per hari per orang dapat menimbulkan penyakit CRS (Chinese Restaurant Syndrome). Bahan dasar untuk membuat MSG adalah molases (tetes tebu), pati, maupun tetes gula bit.
    Rumus struktur Monosodium Glutamat adalah zat aditif
  2. Sakarin (C7H5NO3S) sebagai pemanis sintetis, 700 x lebih manis dari gula tebu. Banyak dipakai sebagai pengganti gula pada penderita diabetes mellitus dengan kadar maksimum 300 mg/kg.Rumus struktur sakarin adalah zat aditif
    Selain sakarin, digunakan pula pemanis sintetis lainnya, misalnya Monosodium Cyklamat (MSC), yang mempunyai rasa manis 30 x dari gula tebu. Rumus struktur monosodium cyklamat (natrium siklamat) sebagai berikut: zat aditif
    Konsumsi harian natrium siklamat yang dianggap aman adalah 11 mg/kg berat badan.
    Sebagai pemanis sintetis yang dianggap relatif aman adalah Aspartam. Rumus kimianya C14H18N2O5 dan mempunyai kemanisan 200 x dari gula tebu.
    Rumus struktur aspartam adalah zat aditif
    Pemanis yang dilarang penggunaannya berdasarkan Peraturan Depkes RI No. 722 Tahun 1988 adalah Dulsin.
  3. Asam benzoat dan natrium benzoat digunakan sebagai pengawet pada makanan kecil maupun minuman. Asambenzoat yang rumus kimianya C6H5COOH berfungsi mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri. Batas maksimum penggunaan yang diperbolehkan adalah 1 gram/kg.
    Rumus struktur asam benzoat dan natrium benzoat.
  4. Vanilin, senyawa ini memberikan aroma serupa ekstrak vanili yang berbau harum, banyak dipakai pada makanan maupun minuman.
    Rumus struktur vanilin sebagai berikut: zat aditif

Berikut ini beberapa bahan aditif dalam makanan yang dilarang penggunaannya oleh Depkes RI, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88.

  1. Asam Borat dan senyawanya sebagai pengawet.
  2. Asam Salisilat (Salicylic acid) dan garamnya sebagai pengawet.
  3. Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocar- bonate, DEPC).
  4. Dulsin (Dulcin) sebagai pemanis.
  5. Kalium Klorat (Potassium Chlorate).
  6. Kloramfenikol (Chloramphenicol) sebagai antibiotik.
  7. Minyak nabati yang dibrominasi.
  8. Formalin sebagai pengawet.
  9. Rhodamin B sebagai pewarna merah.
  10. Methanil Yellow sebagai pewarna kuning.
  11. Amaranth sebagai pewarna merah.

 

Penggunaan bahan tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia sehingga harus dihindari pemakaiannya dalam makanan.

Mungkin Anda juga menyukai